Sesali Kehidupanku??? Part I

Atin…sebut saja namaku…
aku seorang gadis desa yang berlatar pendidikan hanya Sekolah Dasar. Kehidupan di desaku benar2 keras, semua harus berfikir bagaimana cara untuk melanjutkan hidup besok??
Aku anak ke 3 dari 7 bersaudara 2 kakakku lelaki dan 4 adik perempuanku. Ibuku menikah dengan 4 orang lelaki berbeda, setelah ayahku meninggal.

Kehidupan keluargaku benar-benar memaksaku berjuang untk melanjutkan hidup. Bayangkan saja, kedua kakak lelakiku tumbuh sebagai lelaki yang nakal dalam pergaulan, mabuk, tawuran, gonta ganti cewek bahkan tidak jarang bergaul dengan PSK. Anak dari Ibuku semua berlatar belakang pendidikan sama denganku hanya lulus dari Sekolah Dasar. Tak pelak, pergaulanku di lingkungan rumahlah yang mempengaruhi psikologis aku dan saudara2ku.

Pergaulan dengan teman-teman yang tidak begitu diperhatikan orang tuanya, bebas bergaul, pulang malam, sudah mengenal lawan jenis dan dekat dengan kehidupan bebas. Beruntung aku masih bisa menjaga kewanitaanku, yah walaupun ciuman dengan lawan jenis sudah menjadi kebiasaan bagiku. Sungguh situasi yang sebenarnya tidak aku harapkan, tapi terpaksa untuk aku menjalaninya. Kehidupan seperti ini yang aku jalani sejak lulus SD.

Ketika aku berusia 14 tahun, aku bertemu dengan seorang pemuda usia SMA pendatang baru di desaku, dia ikut keluarganya untuk pindah rumah di lingkungan desaku. Sebut saja Doni. Seorang pemuda yang terlihat kalem, tidak neko-neko dan bersahaja. Dalam pertemanan ini, benih2 cinta telah tumbuh diantara kita. Aku selalu mendapatkan banyak pelajaran dari Doni yang memang 2 tahun lebih tua usianya denganku. Doni banyak memberikan harapan untukku, mempunyai pendamping hidup yang dapat membawaku ke kehidupan yang lebih baik, tidak seperti sekarang. Tapi aku yang terlanjur dengan kehidupan babasku, sering kali tak menggubris kata-kata Doni, aku tetap saja bergaul bebas dengan teman-teman lelakiku. Suatu hal yang mungkin membuat Doni kecewa jika dia mengetahuinya.

Dua bulan berjalan sudah kedekatan hubungan kita, banyak sekali cerita dan motivasi dari Doni bagiku. Bahagia aku didekatnya, walaupun aku masih saja mengumbar kebebasanku dengan teman-teman mainku. Sungguh aku telah berharap banyak padanya untuk tetap menjalin kedekatan ini,hingga waktu yang tepat untuk kita menikah nanti. Doni pun sering kali berucap demikian, tak peduli latar belakangku seperti apa.

Namun kenyataan berkata lain, Ibuku memaksaku untuk mencari pekerjaan di kota, tepatnya Jakarta. Bekerja sebagai apa pun aku tidak tahu. Tanpa sepengetahuan Doni aku pergi ke Jakarta, disana telah menunggu kenalan Ibuku di sebuah lingkungan pasar yang banyak ruko-ruko, ternyata aku bekerja sebagai pelayanan toko sembako.
Satu bulan sudah berlalu, aku tak tahu kabar Doni, begitupun sebaliknya. Tanpa ada komunikasi, tanpa surat, ataupun telepon. Maklum, saat itu ponsel masih jadi barang mewah, hanya orang-orang tertentu yang punya.

Sampai pada suatu waktu aku diperkenankan pulang kampung, aku berharap aku masih bertemu dengan Doni. Aku benar-benar rindu ingin bertemu dengannya, mungkin melebihi rindu pada keluargaku. Karena memang selama ini Doni lah yang selalu memberiku motivasi dan saran yang baik. Akhirnya keinginanku terpenuhi juga, melalui temanku aku menyampaikan pesan pada Doni bahwa aku ingin bertemu dengannya. Tak kusangka, malam itu Doni datang kerumahku. Kulihat tatapan matanya seperti menyimpan kerinduan yang sangat dalam. Dia memelukku dengan erat, erat sekali, dan membuatku sangat nyaman berada dalam pelukannya. Setidaknya aku berada dalam pelukkan orang yang benar-benar tulus menyayangiku.

Aku bercerita kepadanya tentang pekerjaanku di Jakarta, aku dipaksa kerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupku dan adik2ku. Sementara Ibuku hanya sibuk mengurusi ayah angkatku saja. Doni terlihat merasakan kesedihanku, matanya berkaca-kaca, seakan-akan ingin membawaku pergi tapi keadaanya tidak memungkinkan.

Malam itu, aku menghabiskan waktu untuk bercerita semuanya pada DOni. Benar-benar hanya Doni yang bisa membuatku tenang berada didekatnya. Tapi aku sedih sekali, karena aku dirumah hanya semalam saja. Besok pagi aku harus kembali ke Jakarta, karena memang toko sembako tempat aku bekerja sangat ramai setiap harinya. Sebenarnya aku ingin menghabiskan waktu lama-lama dengan DOni, tapi apa boleh dikata kehidupan ini memang terlalu berat untuk aku jalani. Dimalam itu sebelum DOni pulang, dia memberi satu kecupan di bibirku, seketika aku mengalami rasa yang tidak pernah aku dapatkan sebelumnya. “Doni, aku masih ingin bersamamu” lirihku di dekat telinganya. Dia hanya pergi tanpa melihatku lagi dan berjalan menjauhiku sampai hilang di kegelapan malam. Dalam hatiku aku berucap: “Doni, aku menyayangimu”.

Keesokan harinya, aku berangkat ke Jakarta. Aku tak tahu lagi apakah masih ada waktu untuk bertemu dengan Doni di lain kesempatan. Sedih tak terbendung saat kuingat semalam tadi, aku menangis sepanjang perjalananku ke Jakarta. Aku meratapi nasibku yang tak kunjung bisa keluar dari derita. Seperti ingin mencintai dan dicintai dengan tulus, tapi sangat sulit sekali aku dapatkan itu.

Apa yang harus aku lakukan…???

****************************************************

To be continued….

Tentang Zhyden

Smart, Cool, Excellent... Mencoba menghapus jejak dosa yang tertulis oleh tinta malaikat Allah...
Pos ini dipublikasikan di Cerita Cinta (Suka & Duka). Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s